Alasan Investasi Bodong Tumbuh Subur di Indonesia
  • Vote Up0Vote Down venynxvenynx
    Posts: 5,035Member

    Investasi bodong atau ilegal di Indonesia ibarat jamur di musim
    hujan, tumbuh subur. Padahal, korbannya sudah banyak, begitu juga dengan
    nominal dana masyarakat yang kemudian raib tanpa garansi.To get more
    news about Investasi Bodong, you can visit wikifx.com official website.


      Data Satgas Waspada Investasi (SWI) mencatat setidaknya ada 390
    kegiatan investasi ilegal dan 1.200 fintech bodong yang ditutup
    sepanjang Januari 2020 sampai Februari 2021.


      Sementara kerugian yang muncul dari investasi bodong ini mencapai
    Rp114,9 triliun pada periode 2011-2020, bukan jumlah yang sedikit.


      Ekonom CORE Indonesia Piter Abdullah Redjalam mengatakan ada satu
    alasan utama mengapa investasi bodong tumbuh subur di dalam negeri,
    yaitu karakter serakah dari sebagian masyarakat. Mereka ingin 'cuan'
    tanpa kerja keras.


      “Karakteristik masyarakat kita perlu diakui ada yang serakah dan
    malas, mau dapat hasil banyak, tanpa kerja keras. Bisa dilihat, semua
    korban investasi bodong seperti itu, mau dapat uang dengan mudah, untung
    besar, tapi tidak pakai kerja keras,” kata Piter kepada
    CNNIndonesia.com, Rabu (14/4).


      Alasan lain karena literasi dan inklusi keuangan masyarakat
    Indonesia masih rendah. Saat ini, masih banyak yang belum tahu mana
    investasi yang benar-benar aman, mana yang rasional potensi
    keuntungannya, dan lainnya.


      “Padahal mereka memiliki dana, tapi mereka tidak tahu sebaiknya
    menempatkan dana di mana yang aman, mereka tidak teredukasi,” imbuhnya.


      Masalahnya, ada sebagian masyarakat lainnya yang punya karakter
    memanfaatkan mereka yang serakah dan malas ini. Maka dari itu,
    iming-iming yang diberikan mudah membuat tergiur dan membuat investasi
    bodong mudah diterima.


      “Mereka tahu masyarakat kita banyak tidak punya informasi,
    pengetahuan, tapi punya dana, serakah mau untung 'gede' tanpa kerja
    keras, jadi mulailah diberi iming-iming. Bahkan korbannya pun ada yang
    profesor. Jadi ini bukan soal semata-mata mana yang teredukasi, tapi
    karena serakah juga,” terangnya.


      Senada, Perencana Keuangan dari Advisors Alliance Group Indonesia
    Andy Nugroho juga berpandangan demikian. Ada kecenderungan masyarakat
    ingin dapat uang cepat, sehingga memang ada demand (permintaan) dari
    masyarakat itu sendiri.


      “Makanya kalau diiming-iming bisa dapat hasil sekian, tidak capek,
    tidak perlu kerja, dapat untung besar, orang kita suka tergiur dan ingin
    seperti itu, sehingga penggandaan uang yang seperti ini (investasi
    bodong) masih diterima,” kata Andy.


      Padahal, menurut Andy, berbagai sosialisasi mengenai informasi
    produk investasi sejatinya sudah diberikan. Begitu juga perkembangannya
    di media sosial, media berita, dan lainnya.


      Belum lagi, SWI terus merilis daftar investasi bodong di
    masyarakat. Lalu, menutup mereka. Sayangnya, mati satu tumbuh seribu,
    karena memang permintaannya masih ada di masyarakat.


      “Kalau pun ada yang kurang dari regulator, mungkin lebih ke
    personel di lapangan, karena jumlahnya tidak sebanyak dengan investasi
    bodong yang bermunculan terus, mereka cepat,” tuturnya.


      Begitu juga dengan penetrasi dari para pelaku penyedia instrumen
    investasi, mulai dari manajer investasi, bursa efek, hingga pemerintah.
    Menurut Andy, semuanya sudah memberikan informasi, tapi memang sebagian
    masyarakat lebih memilih investasi bodong yang memberi iming-iming luar
    biasa.


      Padahal, menurut Andy, berbagai sosialisasi mengenai informasi
    produk investasi sejatinya sudah diberikan. Begitu juga perkembangannya
    di media sosial, media berita, dan lainnya.


      Belum lagi, SWI terus merilis daftar investasi bodong di
    masyarakat. Lalu, menutup mereka. Sayangnya, mati satu tumbuh seribu,
    karena memang permintaannya masih ada di masyarakat.


      “Kalau pun ada yang kurang dari regulator, mungkin lebih ke
    personel di lapangan, karena jumlahnya tidak sebanyak dengan investasi
    bodong yang bermunculan terus, mereka cepat,” tuturnya.


      Begitu juga dengan penetrasi dari para pelaku penyedia instrumen
    investasi, mulai dari manajer investasi, bursa efek, hingga pemerintah.
    Menurut Andy, semuanya sudah memberikan informasi, tapi memang sebagian
    masyarakat lebih memilih investasi bodong yang memberi iming-iming luar
    biasa.

Howdy, Stranger!

It looks like you're new here. If you want to get involved, click one of these buttons!

Top Posters

Who's Online (0)